Thursday, February 10, 2011

Enam Terduga Teroris dari SMKN 2 Klaten, Guru-Guru pun Shock

Pertama, saya heran mengapa banyak yang mencari di google dengan keyword "SMK N 2 Klaten." Setelah saya coba menelusurinya, ternyata mereka mencari berita tentang tersangka teroris yg berasal dari SMK N 2 Klaten.
Keyword yang sering digunakan: SMK N 2 Klaten, Agung SMK N 2 Klaten, Joko SMK N 2 Klaten, Arga SMK N 2 Klaten, Yuda SMK N 2 Klaten, Budi Santoso SMK N 2 Klaten.

Ini beritanya...

Awas, jaringan teroris mulai merekrut kader-kader di sekolah. Setidaknya, hal itu bisa dilihat dari penggerebekan tim Densus 88 Mabes Polri di Klaten pada Selasa lalu (25/1). Enam di antara tujuh orang yang ditangkap berasal dari SMKN 2 Klaten. Guru-guru di sekolah itu pun shock.

Pagi itu, jarum jam menunjuk pukul 06.45. Suasana di SMKN 2 Klaten yang berlokasi di Desa Senden, Kecamatan Ngawen, tersebut tampak ramai oleh lalu lalang para pelajar. Terlihat dua petugas satpam sedang sibuk mengatur jalan yang menjadi tempat penyeberangan para siswa. Setengah jam kemudian, suasana di sekolah tersebut sepi. Para pelajar sudah masuk ke kelas masing-masing. Itulah suasana di SMKN 2 Klaten kemarin (26/1). Nama SMKN 2 Klaten menjadi bahan perbincangan cukup hangat setelah sehari sebelumnya (25/1) tim Densus  88 menangkap tujuh orang yang diduga sebagai anggota komplotan teroris binaan Dr Azhari (gembong teroris asal Malaysia yang sudah tewas ditembak Densus 88).


Sebab, enam di antara tujuh pelaku yang ditangkap tersebut berasal dari satu sekolah menengah kejuruan itu. Di antara nema orang tersebut, berdasar penelusuran Radar Solo (Grop JPNN), tiga orang masih berstatus pelajar dan tiga lainnya alumnus.
Tiga yang masih berstatus pelajar itu adalah Joko Lelono (19), jurusan teknik elektro; Arga Wiratama (18), jurusan teknik mesin; serta Yuda Anggoro (19), jurusan mekanik elektro. Tiga lainnya sudah alumnus. Mereka adalah Nugroho Budi Santoso (20), Tri Budi Santosa (20), dan Agung Jati Santoso (21). Mereka berasal dari jurusan yang berbeda.

"Itu berdasar penelusuran kami terhadap buku induk siswa. Mereka yang masih pelajar sama-sama kelas IV dan merupakan teman seangkatan. Saat ini, mereka masih menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di Solo," jelas Kepala SMKN 2 Klaten Muhammad Soleh kepada Radar Solo di kantornya kemarin. "Kejadian ini membuat kami para guru sangat kaget dan shock," katanya.

Dia menambahkan, berdasar data nilai di kelas I, II, dan III, selama belajar di sekolah, tiga anak tersebut termasuk kategori cerdas. Nilai terendah di semua pelajaran adalah tujuh. Untuk pelajran agama, nilai mereka memang cukup menonjol, yaitu delapan. Bahkan, ada yang hampir sembilan.

Soleh mengaku kecolongan atas adanya kejadian tersebut. Selama ini, sekolah sudah membebaskan siswa untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki di luar sekolah bagi siswa kelas IV. "Tapi, ternyata ada yang menyalahgunakan kesempatan itu. Apa yang menimpa mereka membuat kami seperti disambar petir. Selama bergaul dengan siswa lain, mereka itu baik dan pendiam," ungkapnya.

Saat ini, lanjut Soleh, sekolah terus berkoordinasi dengan Polres Klaten untuk mengambil tindakan lebih lanjut. Terutama berkaitan dengan ancaman sanksi yang akan dijatuhkan kepada siswa tersebut. "Secara disiplin, jika benar-nenar terlibat, dalam organisasi terlarang (teroris), mereka akan dikenai sanksi berat. Apalagi sampai dinyatakan bersalah dan masuk penjara. Tentu akan dikenai skor 100. Artinya, mereka dikeluarkan secara tidak hormat," tegasnya.

Lebih lanjut Soleh menuturkan, sebelum sanksi dijatuhkan, sekolah akan terus berkoordinasi dengan polisi. Sekolah juga akan meminta bantuan polisi untuk memberikan  sosialisasi depada siswa agar berhati-hati dalam bergaul. "Memang, ini sedikit terlambat. Tapi, tidak ada salahnya juga kami minta bantuan kepada penegak hukum agar ke depan kasus serupa tidak terulang," ujarnya.

Joko Purnomo, guru agama di SMKN 2 Klaten, menambahkan, tiga siswa yang ditangkap Densus 88 itu (Joko Lelono, Arga Wiratama, dan Yuda Anggoro) termasuk siswa yang aktif dalam kegiatan keagamaan di sekolah yang bernama rohis. Bahkan, nilai mata pelajaran agama mereka cukup bagus. "Jadi, kami kaget saat mendapat kabar ada siswa sekolah ini yang ditangkap polisi. Selama ini, mereka tidak pernah memiliki pemikiran ekstrem terhadap ajaran agama," katanya.

Hal senada disampaikan mantan Ketua Rohis SMKN 2 Klaten Khabib Muzaki. Dia seringbergaul dengan Arga dan Joko Lelono. Namun, pergaulan tersebut sebatas kakak dan adik kelas. "Mas Joko itu humoris. Setiap kegiatan rohis selalu membantu. Jadi, kami sebagai adik kelas juga sangat kaget saat ada kabar dia terlibat jaringan seperti itu (teroris)," ungkapnya.

Selama mengikuti diskusi, Arga dan Joko tidak pernah menunjukkan pemikiran yang berbeda jauh dari pandangan siswa lainnya. Zaki mengenal Joko sebagai pribadi yang pendian. Termasuk saat mengikuti diskusi.

Hal tersebut berbeda dari Arga. Siswa dari Desa Buntalan, Kecamatan Klaten Tengah, tersebut lebih banyak terlibat dalam kepanitiaan kegiatan. Selama Zaki menjabat ketua ronis, hampir dua tahun Arga selalu minta ditempatkan di seksi perlengkapan.
"Kalau mas Arga, jarang bicara namun banyak bekerja. Yang jelas, dia selalu terlibat dalam kegiatan yang diadakan rohis. Orangnya rajin membantu setiap even yang digelar," ujarnya.

Di bagian lain, Bupati Klaten Sunarna menuturkan, kasus yang menimpa siswa SMKN 2 Klaten itu harus menjadi pelajran bagi seluruh sekolah. Terungkapnya kasus tersebut menunjukkan bahwa bahaya teroris berada di sekitar masyarakat. "Saya minta kepada seluruh lapisan masyarakat untuk lebih waspada. Pengawasan terhadap anak, siswa, harus terus dilakukan. Pembinaan secara berkelanjutan tetap dilaksanakan sekolah," tegasnya.

Dia meminta perangkat desa melapor jika ada warga asing yang mencurigakan. Setiap pendatang baru yang menginap di rumah warga juga harus melapor kepada ketua RT setempat. "Ini menjadi bagian dari tugas seluruh masyarakat. Bukan hanya polisi. Seua wajib mengawasi dan membantu tugas kepolisian," katanya.
Sementara itu, hingga asing kemarin, lima lokasi penggerebekan terduga teroris masih dipasangi police line. Anggota Polres Klaten juga disiagakan untuk menjaga lokasi agar steril dari warga. Sebelumnya, tim Densus 88 menangkap tujuh terduga teroris di lima lokasi di Klaten. Mereka yang tertangkap masih berusia muda. Penangkapan para tersangka itu terkait dengan teror di masjid dan gereja sebulan terakhir. 
Sumber: Sumatera Ekspres (oleh: Boy Rohmanto)


No comments:



Enam Terduga Teroris dari SMKN 2 Klaten, Guru-Guru pun Shock

Post a Comment

SMK N 2 KLATEN | Enam Terduga Teroris dari SMKN 2 Klaten, Guru-Guru pun Shock
Agen Asuransi | Rapidleech Plugmod